Pages

Sabtu, 31 Mei 2014

Catatanku untuk Paman Kaki Panjang

“Seseorang yang beberapa bulan terakhir ini telah menemaniku, setidaknya belajar menerima kekuranganku. Seseorang yang bahunya hanya untukku, pelukannya hanya untukku. Seseorang yang sabar sekali mengajariku untuk menerima perbedaan. Karena perbedaan itu fitrah sekali, katanya. Terima kasih banyak, sayang.”

Paman Kaki Panjang...

Aku takut menemukan alasan, karena aku takut nantinya alasanku akan menjauhkanku darimu. Biarlah semua tanpa alasan. Biarlah semua tanpa syarat. J

Terima kasih karena selalu memberiku dukungan ya meski dengan bahasamu. Aku bukan orang yang bisa mengambil keputusan dengan cepat, sepertimu. Tapi, terima kasih karena telah mengajariku untuk mengambil sikap.

Aku rumit. Serumit benang wol, mungkin. Aku tau, aku rumit. Dan tak ada yang bisa ku lakukan dengan kerumitanku itu. Aku rumit, kamu simpel. Bukankah kita cocok?


Ada saat dimana seorang Aya akan tenggelam dalam pikirannya sendiri, tenggelam dalam ilusi yang ia ciptakan sendiri. Saat itu terjadi, ia akan menolak kemungkinan apapun. Ia akan menolak pertimbangan apapun. Karena baginya saat itu yang benar adalah ilusinya. Ini penyakit. Karena ia bisa tenggelam dalam kerumitan yang ia ciptakan sendiri.

Tak akan rumit jika aku bisa menerima keadaan. Tak akan rumit jika aku menerima keadaan seorang AYA saat ini. Dimana ia lebih dibutuhkan, dimana ia lebih mampu, dimana ia cocok ditempatkan. Yaa, tak akan rumit jika aku menerimanya tanpa alasan.

Maafkan aku, karena Aya yang seperti ini. Aya yang apa adanya seperti ini. Maaf, bila semua yang ada pada diriku membuatmu ‘geregetan’.

Terima kasih karena sudah mau bersabar denganku.


Aku menyayangimu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar