“Seseorang yang beberapa bulan terakhir ini telah menemaniku,
setidaknya belajar menerima kekuranganku. Seseorang yang bahunya hanya untukku,
pelukannya hanya untukku. Seseorang yang sabar sekali mengajariku untuk menerima
perbedaan. Karena perbedaan itu fitrah sekali, katanya. Terima kasih banyak,
sayang.”
Paman Kaki Panjang...
Aku takut menemukan alasan, karena aku takut nantinya alasanku akan
menjauhkanku darimu. Biarlah semua tanpa alasan. Biarlah semua tanpa syarat. J
Terima kasih karena selalu memberiku dukungan ya meski dengan
bahasamu. Aku bukan orang yang bisa mengambil keputusan dengan cepat,
sepertimu. Tapi, terima kasih karena telah mengajariku untuk mengambil sikap.
Aku rumit. Serumit benang wol, mungkin. Aku tau, aku rumit. Dan tak
ada yang bisa ku lakukan dengan kerumitanku itu. Aku rumit, kamu simpel.
Bukankah kita cocok?
Ada saat dimana seorang Aya akan tenggelam dalam pikirannya sendiri,
tenggelam dalam ilusi yang ia ciptakan sendiri. Saat itu terjadi, ia akan
menolak kemungkinan apapun. Ia akan menolak pertimbangan apapun. Karena baginya
saat itu yang benar adalah ilusinya. Ini penyakit. Karena ia bisa tenggelam
dalam kerumitan yang ia ciptakan sendiri.
Tak akan rumit jika aku bisa menerima keadaan. Tak akan rumit jika
aku menerima keadaan seorang AYA saat ini. Dimana ia lebih dibutuhkan, dimana
ia lebih mampu, dimana ia cocok ditempatkan. Yaa, tak akan rumit jika aku
menerimanya tanpa alasan.
Maafkan aku, karena Aya yang seperti ini. Aya yang apa adanya
seperti ini. Maaf, bila semua yang ada pada diriku membuatmu ‘geregetan’.
Terima kasih karena sudah mau bersabar denganku.
Aku menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar