Gue balik. I'm back. Setelah seminggu berkutat sama ke-egois-an gue. Akhirnya, gue balik. Yaa, di tempat ini, dimana lagi kalo bukan di tempat ini. Udah cukup rasanya berkutat sama ke-egois-an yang sebenernya dan bakal nggak pernah ada ujungnya ini. Nggak bakalan pernah selese kalo gue nurutin mau gue. So, now i'm lose. Memang sudah seharusnya gue yang ngilangin sisi keegoisan gue. Gue yang harus menyesuaikan bukan yang lain yang harus menyesuaikan. Apapun yang terjadi, gue yang harus menyesuaikan dan gue yang harus siap sama... APAPUN.
Rasa bersalah pasti ada. Apalagi setelah debat hebat (nggak hebat-hebat juga siy) with someone. Gue cuma tanya, bukan mengajukan keberatan. Tapi, mungkin baginya pertanyaan gue adalah bentuk keberatan gue. Okay, I'm sorry. Gue cuma nggak dewasa aja. :)
Pola pikir gue yang harusnya diperbaiki, sudut pandang gue yang harusnya diubah. Bukan yang lain, tapi gue. Seharusnya sebelum gue tanya, gue memposisikan diri dulu sebagai siapa. Seperti yang pernah diomongin dosen gue, "Jika kamu ingin tau rasanya menjadi bunga, maka kamu harus menjadi bunga terlebih dahulu." So, see... Gue yang harusnya memposisikan diri gue sebagai siapa dulu, before I asked.
Yeah, cukup rasanya seminggu menjadi asing dengan rumah ini. Cukup rasanya seminggu berkutat hanya dengan bantal, guling, dan kasur. Sudah cukup rasanya. Sudah saatnya untuk menguatkan diri sendiri. Sudah saatnya untuk tidak bergantung pada siapapun. Sudah saatnya untuk seorang AYA nggak mikirin diri sendiri.
"Seiring dengan berjalannya waktu, lukapun akan sembuh." :)
Bukan rumah itu yang kenapa-kenapa tanpa aku, tapi tepatnya aku yang kenapa-kenapa tanpa rumah itu. :)