Pages

Senin, 17 Juni 2013

Perkembangan Peserta Didik - Studi Kasus Cara Belajar Peserta Didik


STUDI KASUS CARA BELAJAR PESERTA DIDIK
PROFIL

Nama                           : Muhammad Mega Nugraha
Usia                             : 9 Tahun
Sekolah                       : Madrasah Ibtidaiyah Al-Irsyad Madiun
Gaya dan Cara Belajar: 1. Pendekatan berdasarkan pada lingkungan
                                      2. Pendekatan berdasarkan pada penyerapan informasi
- Dengan pembelajaran Visual
Permasalahan Pembelajaran:
Permasalahan pada gaya belajar yang dimiliki oleh peserta didik yang menggunakan pendekatan berdasarkan lingkungan adalah peserta didik cenderung belajar karena perintah atau rangsangan dari lingkungan sekitarnya. Peserta didik tersebut lebih bergantung kepada orang lain ketika ia belajar, maksudnya bila tidak ada yang memerintahkan untuk belajar maka ia akan malas belajar. Hal inilah yang menjadi kendala peserta didik untuk belajar secara konsisten. Bila tidak ada anggota keluarga yang mengingatkan maka peserta didik sendiri akan malas-malasan untuk mulai membaca buku. Kemudian, jika orang tua peserta didik sedang tidak ada di rumah, peserta didik akan lebih memilih menonton kartun kesukaannya di televisi.
Selain menggunakan gaya belajar dengan pendekatan berdasarkan lingkungan, gaya belajar peserta didik juga berdasar kepada pendekatan berdasarkan pada penyerapan informasi. Dalam pendekatan tersebut peserta didik cenderung lebih nyaman menggunakan pembelajaran Visual untuk gaya dan cara belajarnya, walaupun terkadang juga diikuti oleh pembelajaran kinesthesis, yaitu dengan menghafal dengan
menggerakkan sebagian anggota tubuhnya. Pada saat belajar, peserta didik lebih suka membaca kembali materi yang telah diajarkan dari pada dibacakan oleh orang tua atau kakaknya. Walaupun tidak terganggu dengan keributan disekitarnya namun terkadang bila ada hal lain yang membuatnya tertarik peserta didik tersebut akan kehilangan konsentrasi belajarnya dan lebih memilih untuk berhenti membaca sejenak untuk memperhatikan yang lain. 


DASAR TEORI
A.    Belajar
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu sebagai wujud dari usaha untuk berubah, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Menurut Hamalik (1983: 28), belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah baru berkat pengalaman dan latihan.
Skinner berpendapat bahwa “Learning is a process progressive behavior adaptation”. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Maksudnya, bahwa belajar akan mengarah pada perubahan yang lebih baik dan perubahan juga membutuhkan proses untuk mencapai hasil atau tujuan tertentu.
B.     Gaya Belajar
Conner (2004) menyatakan bahwa “A learning style is everything that controls how we take in, concentrate on, understand, process, store, remember, and use new information.” Dari pernyataan tersebut dapat kita ketahui bahwa gaya belajar adalah segala sesuatu yang mengontrol bagaimana kita terlibat, berkonsentrasi, memahami, proses, mengemukakan, mengingat, dan menggunakan informasi baru.
Gaya belajar merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh peserta didik untuk memahami dan mempraktikkan ilmu yang telah ia pelajari. Gaya belajar yang dimiliki oleh peserta didik muncul berdasarkan kenyamanan masing-masing ataupun dorongan kemampuan yang lebih dominan yang dimiliki oleh peserta didik. Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik biasanya dipengaruhi oleh factor lingkungan sekitar, kebiasaan orang-orang sekitarnya, dan pengaruh dari faktor teknologi dan pengetahuan.
C.     Jenis Gaya Belajar
Berdasarkan studi longitudinal yang dilakukan oleh H. Witkin pada tahun 1954-1970, ada dua tipe gaya belajar peserta didik. Kedua tipe tersebut adalah gaya belajar Field Dependent dan Field Independent. Gaya belajar field dependent adalah gaya belajar yang dipengaruhi oleh lingkungan. Gaya belajar field dependent ini juga dapat dikatakan sebagai gaya belajar yang bergantung pada lingkungan sekitarnya. Sedangkan untuk gaya belajar Field Independent adalah gaya belajar yang kurang dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan dimasa lampau.
Field Dependent
Field Independent
-          Sangat dipengaruhi oleh lingkungan, banyak bergantung ada pendidikan sewaktu kecil.
-          Kurang dipengaruhi oleh lingkungan dan oleh pendidikan di masa lampau.
-          dididik untuk selalu memperhatikan orang lain.
-          Dididik untuk berdiri sendiri dan mempnyai otonomi atas tindakannya.
-          Bicara lambat agar dapat dipahami orang lain.
-          Berbicara cepat tanpa menghiraukan daya tangkap orang lain.
Kemudian, menurut Adi W. Gunawan (2004), gaya belajar mempunyai beberapa pendekatan, yaitu:
1.      Pendekatan berdasar pada pemrosesan informasi.
2.      Pendekatan berdasar kepribadian.
3.      Pendekatan berdasar modalitas pribadi.
4.      Pendekatan berdasar lingkungan.
5.      Pendekatan berdasarkan interaksi social.
6.      Pendekatan berdasarkan kecerdasan.
7.      Pendekatan berdasarkan wilayah otak.
Gaya belajar menurut Bonwel dan Fleming (Fleming, 2001) yang dikenal dengan gaya belajar VARK (Visual, Aural, Read/Write, dan Kinesthetic). Gaya belajar tersebut merupakan perkembangan dari gaya belajar VAK (Visual, Auditory/oral, Kinesthetic) yang telah ada sebelumnya dari Bander dan Grinder (Prashnig, 2007: 44).
1.      Gaya belajar Visual
Peserta didik dengan gaya belajar Visual akan lebih nyaman dengan gambar, warna, maupun peta belajar (bagan) yang digambarkan dari penjelasan-penjelasan yang ia terima. Peserta didik dengan gaya belajar visual memmiliki kecenderungan spasial yang baik. Adapun ciri-ciri peserta didik dengan gaya belajar visual antara lain (DePorter dan Hernacky, 2009: 116) rapi dan teratur, berbicara dengan cepat, teliti terhadap detail, mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi, pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka, mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, biasanya tidak terganggu oleh keributan, lebih suka membaca daripada dibacakan,  sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak”, konsentrasi mudah terpecah.
2.      Gaya Belajar Aural
Pada gaya belajar aural ini peserta didik lebih mengutamakan pendengaran dalam proses penerimaan dan pengolahan informasinya. Untuk memperoleh informasi peserta didik dengan gaya belajar Aural akan menghadiri kelas-kelas, menghadiri diskusi dan tutorial, mendiskusikan topic dengan orang lain, menjelaskan ide-ide baru dengan orang lain, dan menggunakan tape recorder.
3.      Gaya belajar Read/Write (Membaca/menulis)
Peserta didik dengan gaya belajar ini memiliki preferensi yang kuat untuk belajar dengan menulis dan membaca. Pengambilan informasi dilakukan melalui daftar, judul, kamus, glosari, definisi, handout, buku bacaan, catatan, menggunaan kata-kata guru yang baikdan memiliki banyak informasi dalam kalimat-kalimat dan catatan, serta esai (Fleming, 2001).
4.      Gaya Belajar Kinesthetic
Peserta didik dengan gaya belajar seperti ini lebih mudah mengingat dengan baik melalui kegiatan yang melibatkan seluruh tubuh (Prashnig, 2007: 157). Peserta didik dengan gaya belajar ini menyukai pengalaman nyata. Adapun ciri-ciri peserta didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik adalah bicara lebih lambat, banyak bergerak, menghafal sambil menggerakkan bagian-bagian tubuh, banyak menggunakan isyarat tubuh sebagai luapan emosi dalam berbicara, tidak dapat diam dalam waktu lama, banyak menggunakan kata-kata yang mengandung aksi, menyukai permainan yang menyibukkan, ingin melakukan banyak hal, dan tulisannya jelek, menembus kertas, ada tekanan kuat pada alat tulis.
  

SOLUSI PEMBELAJARAN
Peserta didik, Muhammad Mega Nugraha (9th), memiliki pendekatan pembelajaran berdasarkan lingkungan, yang berarti bahwa peserta didik baru mau belajar setelah ada rangsangan dari luar. Rangsang tersebut dapat berupa perintah dari lingkungan sekitarnya, dalam kasus ini lingkungan sekitar peserta didik adalah keluarga. Jika dilihat dari pengertiannya, pendekatan tersebut hampir sama dengan tipe Field Dependent yang telah penulis ulas pada bab sebelumnya.
Keduanya, pendekatan berdasar pada lingkungan maupun field dependent, sama-sama mengharuskan adanya rangsangan dari luar agar peserta didik tetap mau belajar secara rutin dan konsisten. Efek negative dari pendekatan tersebut adalah peserta didik menjadi bergantung pada lingkungan, peserta didik akan malas belajar bila tidak disuruh. Itu adalah salah satu kendala yang dialami oleh peserta didik Muhammad Mega Nugraha.
Kemudian gaya belajar peserta didik yang lebih nyaman menggunakan gaya belajar Visual, mengharuskan orang tua peserta didik untuk terus mengingatkan agar peserta didik mau belajar. Peserta didik memang lebih suka membaca buku pelajaran daripada dibacakan, pesera didik juga lebih mudah mengingat apa yang dia lihat dari pada yang dia dengar. Walaupun peserta didik tidak terganggu oleh keributan ketika sedang belajar, namun peserta didik mudah kehilangan konsentrasi ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Contohnya saja ketika peserta didik sedang belajar dan ia mengetahui bahwa teman-temannya di luar sedang bermain mobil-mobilan maka peserta didik akan mulai bingung. Bingung disini maksudnya adalah arah belajar mulai tidak terfokus, setiap beberapa menit sekali akan melihat keluar dan berbincang sedikit dengan teman-temannya. Jika perhatiannya sudah tidak terfokus lagi pada bacaan yang dia baca, maka peserta didik memilih untuk berhenti belajar dan bermain bersama temannya. Hal tersebut berlaku juga ketika perhatiannya mulai terganggu dengan acara-acara televisi yang disukainya.
Pendekatan-pendekatan yang seharusnya dilakukan untuk peserta didik dengan gaya belajar seperti tersebut diatas adalah:
1.      Orang tua hendaknya menerapkan disiplin waktu pada peserta didik. Melihat bagaimana peserta didik menunggu di suruh untuk belajar, mengharuskan orang tua untuk lebih tegas dalam masalah disiplin waktu. Orang tua bisa mengajak peserta didik berdiskusi untuk membicarakan jadwal disiplin yang akan dibuat. Berdiskusi di sini bertujuan untuk melatih peserta didik untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia usulkan dan setujui.
2.      Mengingat peserta didik mudah teralihkan konsentrasinya, hendaknya orang tua membantu peserta didik dengan memberikan ruang belajar yang nyaman dan jauh dari gangguan. Hal ini menuntut pengertian dari lingkungan keluarga, bila waktu untuk belajar hendaknya akses informasi seperti televisi dimatikan.
3.      Mengajak peserta didik untuk member warna pada tulisan-tulisan yang dianggap penring di buku bacaannya. Hal tersebut bisa menggunakan stabile atau spidol. Hal ini dilakukan karena peserta didik dengan gaya belajar visual cenderung menyukai tulisan rapi dan menarik.
4.      Orang tua dianjurkan untuk member hiasan-hiasan dinding yang berhubungan dengan pelajaran dan menempelkannya di kamar peserta didik. Hal ini dapat membantu peserta didik untuk menghafal.
5.      Di sekolah, peserta didik dianjurkan untuk duduk di tempat yang dapat mengamati semua kegiatan belajar mengajar. Karena peserta didik dengan gaya belajar visual lebih mudah memahami bila ia melihat sendiri apa yang diterangkan atau peragaan yang diperagakan oleh guru.
Pendekatan-pendekatan tersebut di atas kiranya sedikit banyak membantu peserta didik dalam belajar. Untuk awal penerapan jam disiplin, mungkin orang tua juga harus aktif mengingatkan, namun seiring berjalannya waktu jam disiplin tersebut akan ditaati peserta didik. Semua berawal dari hal yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan membentuk disiplin seorang peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA
1.      J. Gerung, Nixon. Conceptual Learning and Learning Style. http://journal.uniera.ac.id/pdf_repository/juniera5-Zmiv7L6ep2ZJIvSZhtg1IT0GE.pdf

5.      Chasiyah, dkk. Perkembangan Peserta Didik. Surakarta: Yuma Pustaka & Learing Resources Center FKIP-UNS. 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar