STUDI KASUS CARA BELAJAR PESERTA DIDIK
PROFIL
Nama : Muhammad Mega
Nugraha
Usia
: 9 Tahun
Sekolah : Madrasah Ibtidaiyah
Al-Irsyad Madiun
Gaya
dan Cara Belajar: 1. Pendekatan berdasarkan pada lingkungan
2. Pendekatan berdasarkan pada penyerapan
informasi
- Dengan pembelajaran Visual
Permasalahan
Pembelajaran:
Permasalahan pada gaya belajar yang dimiliki oleh peserta didik
yang menggunakan pendekatan berdasarkan lingkungan adalah peserta didik
cenderung belajar karena perintah atau rangsangan dari lingkungan sekitarnya.
Peserta didik tersebut lebih bergantung kepada orang lain ketika ia belajar,
maksudnya bila tidak ada yang memerintahkan untuk belajar maka ia akan malas
belajar. Hal inilah yang menjadi kendala peserta didik untuk belajar secara
konsisten. Bila tidak ada anggota keluarga yang mengingatkan maka peserta didik
sendiri akan malas-malasan untuk mulai membaca buku. Kemudian, jika orang tua
peserta didik sedang tidak ada di rumah, peserta didik akan lebih memilih
menonton kartun kesukaannya di televisi.
Selain menggunakan gaya belajar dengan pendekatan berdasarkan
lingkungan, gaya belajar peserta didik juga berdasar kepada pendekatan
berdasarkan pada penyerapan informasi. Dalam pendekatan tersebut peserta didik
cenderung lebih nyaman menggunakan pembelajaran Visual untuk gaya dan cara
belajarnya, walaupun terkadang juga diikuti oleh pembelajaran kinesthesis,
yaitu dengan menghafal dengan
menggerakkan sebagian anggota tubuhnya. Pada saat belajar, peserta didik lebih suka membaca kembali materi yang telah diajarkan dari pada dibacakan oleh orang tua atau kakaknya. Walaupun tidak terganggu dengan keributan disekitarnya namun terkadang bila ada hal lain yang membuatnya tertarik peserta didik tersebut akan kehilangan konsentrasi belajarnya dan lebih memilih untuk berhenti membaca sejenak untuk memperhatikan yang lain.
menggerakkan sebagian anggota tubuhnya. Pada saat belajar, peserta didik lebih suka membaca kembali materi yang telah diajarkan dari pada dibacakan oleh orang tua atau kakaknya. Walaupun tidak terganggu dengan keributan disekitarnya namun terkadang bila ada hal lain yang membuatnya tertarik peserta didik tersebut akan kehilangan konsentrasi belajarnya dan lebih memilih untuk berhenti membaca sejenak untuk memperhatikan yang lain.
DASAR TEORI
A.
Belajar
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu sebagai wujud
dari usaha untuk berubah, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi
bisa. Menurut Hamalik (1983: 28), belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan
dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah baru berkat
pengalaman dan latihan.
Skinner berpendapat bahwa “Learning is a process progressive
behavior adaptation”. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif.
Maksudnya, bahwa belajar akan mengarah pada perubahan yang lebih baik dan
perubahan juga membutuhkan proses untuk mencapai hasil atau tujuan tertentu.
B.
Gaya
Belajar
Conner (2004) menyatakan bahwa “A learning style is everything
that controls how we take in, concentrate on, understand, process, store,
remember, and use new information.” Dari pernyataan tersebut dapat kita
ketahui bahwa gaya belajar adalah segala sesuatu yang mengontrol bagaimana kita
terlibat, berkonsentrasi, memahami, proses, mengemukakan, mengingat, dan
menggunakan informasi baru.
Gaya belajar merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh peserta didik
untuk memahami dan mempraktikkan ilmu yang telah ia pelajari. Gaya belajar yang
dimiliki oleh peserta didik muncul berdasarkan kenyamanan masing-masing ataupun
dorongan kemampuan yang lebih dominan yang dimiliki oleh peserta didik.
Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik biasanya dipengaruhi oleh
factor lingkungan sekitar, kebiasaan orang-orang sekitarnya, dan pengaruh dari
faktor teknologi dan pengetahuan.
C.
Jenis
Gaya Belajar
Berdasarkan studi longitudinal yang dilakukan
oleh H. Witkin pada tahun 1954-1970, ada dua tipe gaya belajar peserta didik.
Kedua tipe tersebut adalah gaya belajar Field Dependent dan Field Independent.
Gaya belajar field dependent adalah gaya belajar yang dipengaruhi oleh
lingkungan. Gaya belajar field dependent ini juga dapat dikatakan sebagai gaya
belajar yang bergantung pada lingkungan sekitarnya. Sedangkan untuk gaya
belajar Field Independent adalah gaya belajar yang kurang dipengaruhi oleh
lingkungan dan pendidikan dimasa lampau.
Field
Dependent
|
Field
Independent
|
-
Sangat
dipengaruhi oleh lingkungan, banyak bergantung ada pendidikan sewaktu kecil.
|
-
Kurang
dipengaruhi oleh lingkungan dan oleh pendidikan di masa lampau.
|
-
dididik
untuk selalu memperhatikan orang lain.
|
-
Dididik
untuk berdiri sendiri dan mempnyai otonomi atas tindakannya.
|
-
Bicara
lambat agar dapat dipahami orang lain.
|
-
Berbicara
cepat tanpa menghiraukan daya tangkap orang lain.
|
Kemudian, menurut Adi W. Gunawan (2004), gaya belajar mempunyai
beberapa pendekatan, yaitu:
1.
Pendekatan
berdasar pada pemrosesan informasi.
2.
Pendekatan
berdasar kepribadian.
3.
Pendekatan
berdasar modalitas pribadi.
4.
Pendekatan
berdasar lingkungan.
5.
Pendekatan
berdasarkan interaksi social.
6.
Pendekatan
berdasarkan kecerdasan.
7.
Pendekatan
berdasarkan wilayah otak.
Gaya belajar menurut Bonwel dan Fleming (Fleming, 2001) yang
dikenal dengan gaya belajar VARK (Visual, Aural, Read/Write, dan Kinesthetic).
Gaya belajar tersebut merupakan perkembangan dari gaya belajar VAK (Visual,
Auditory/oral, Kinesthetic) yang telah ada sebelumnya dari Bander dan Grinder
(Prashnig, 2007: 44).
1.
Gaya
belajar Visual
Peserta didik
dengan gaya belajar Visual akan lebih nyaman dengan gambar, warna, maupun peta
belajar (bagan) yang digambarkan dari penjelasan-penjelasan yang ia terima.
Peserta didik dengan gaya belajar visual memmiliki kecenderungan spasial yang
baik. Adapun ciri-ciri peserta didik dengan gaya belajar visual antara lain
(DePorter dan Hernacky, 2009: 116) rapi dan teratur, berbicara dengan cepat,
teliti terhadap detail, mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun
presentasi, pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam
pikiran mereka, mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, biasanya
tidak terganggu oleh keributan, lebih suka membaca daripada dibacakan, sering menjawab pertanyaan dengan jawaban
singkat “ya” atau “tidak”, konsentrasi mudah terpecah.
2.
Gaya
Belajar Aural
Pada gaya
belajar aural ini peserta didik lebih mengutamakan pendengaran dalam proses
penerimaan dan pengolahan informasinya. Untuk memperoleh informasi peserta
didik dengan gaya belajar Aural akan menghadiri kelas-kelas, menghadiri diskusi
dan tutorial, mendiskusikan topic dengan orang lain, menjelaskan ide-ide baru
dengan orang lain, dan menggunakan tape recorder.
3.
Gaya
belajar Read/Write (Membaca/menulis)
Peserta didik
dengan gaya belajar ini memiliki preferensi yang kuat untuk belajar dengan
menulis dan membaca. Pengambilan informasi dilakukan melalui daftar, judul,
kamus, glosari, definisi, handout, buku bacaan, catatan, menggunaan kata-kata
guru yang baikdan memiliki banyak informasi dalam kalimat-kalimat dan catatan,
serta esai (Fleming, 2001).
4.
Gaya
Belajar Kinesthetic
Peserta didik dengan gaya belajar
seperti ini lebih mudah mengingat dengan baik melalui kegiatan yang melibatkan
seluruh tubuh (Prashnig, 2007: 157). Peserta didik dengan gaya belajar ini
menyukai pengalaman nyata. Adapun ciri-ciri peserta didik yang menggunakan gaya
belajar kinestetik adalah bicara lebih lambat, banyak bergerak, menghafal
sambil menggerakkan bagian-bagian tubuh, banyak menggunakan isyarat tubuh
sebagai luapan emosi dalam berbicara, tidak dapat diam dalam waktu lama, banyak
menggunakan kata-kata yang mengandung aksi, menyukai permainan yang
menyibukkan, ingin melakukan banyak hal, dan tulisannya jelek, menembus kertas,
ada tekanan kuat pada alat tulis.
SOLUSI PEMBELAJARAN
Peserta didik, Muhammad Mega Nugraha (9th), memiliki
pendekatan pembelajaran berdasarkan lingkungan, yang berarti bahwa peserta
didik baru mau belajar setelah ada rangsangan dari luar. Rangsang tersebut
dapat berupa perintah dari lingkungan sekitarnya, dalam kasus ini lingkungan
sekitar peserta didik adalah keluarga. Jika dilihat dari pengertiannya,
pendekatan tersebut hampir sama dengan tipe Field Dependent yang telah penulis
ulas pada bab sebelumnya.
Keduanya, pendekatan berdasar pada lingkungan maupun field
dependent, sama-sama mengharuskan adanya rangsangan dari luar agar peserta
didik tetap mau belajar secara rutin dan konsisten. Efek negative dari
pendekatan tersebut adalah peserta didik menjadi bergantung pada lingkungan,
peserta didik akan malas belajar bila tidak disuruh. Itu adalah salah satu
kendala yang dialami oleh peserta didik Muhammad Mega Nugraha.
Kemudian gaya belajar peserta didik yang lebih nyaman menggunakan
gaya belajar Visual, mengharuskan orang tua peserta didik untuk terus
mengingatkan agar peserta didik mau belajar. Peserta didik memang lebih suka
membaca buku pelajaran daripada dibacakan, pesera didik juga lebih mudah
mengingat apa yang dia lihat dari pada yang dia dengar. Walaupun peserta didik
tidak terganggu oleh keributan ketika sedang belajar, namun peserta didik mudah
kehilangan konsentrasi ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Contohnya
saja ketika peserta didik sedang belajar dan ia mengetahui bahwa teman-temannya
di luar sedang bermain mobil-mobilan maka peserta didik akan mulai bingung.
Bingung disini maksudnya adalah arah belajar mulai tidak terfokus, setiap
beberapa menit sekali akan melihat keluar dan berbincang sedikit dengan
teman-temannya. Jika perhatiannya sudah tidak terfokus lagi pada bacaan yang
dia baca, maka peserta didik memilih untuk berhenti belajar dan bermain bersama
temannya. Hal tersebut berlaku juga ketika perhatiannya mulai terganggu dengan
acara-acara televisi yang disukainya.
Pendekatan-pendekatan yang seharusnya dilakukan untuk peserta didik
dengan gaya belajar seperti tersebut diatas adalah:
1.
Orang
tua hendaknya menerapkan disiplin waktu pada peserta didik. Melihat bagaimana
peserta didik menunggu di suruh untuk belajar, mengharuskan orang tua untuk
lebih tegas dalam masalah disiplin waktu. Orang tua bisa mengajak peserta didik
berdiskusi untuk membicarakan jadwal disiplin yang akan dibuat. Berdiskusi di
sini bertujuan untuk melatih peserta didik untuk bertanggung jawab atas apa
yang telah dia usulkan dan setujui.
2.
Mengingat
peserta didik mudah teralihkan konsentrasinya, hendaknya orang tua membantu
peserta didik dengan memberikan ruang belajar yang nyaman dan jauh dari
gangguan. Hal ini menuntut pengertian dari lingkungan keluarga, bila waktu
untuk belajar hendaknya akses informasi seperti televisi dimatikan.
3.
Mengajak
peserta didik untuk member warna pada tulisan-tulisan yang dianggap penring di
buku bacaannya. Hal tersebut bisa menggunakan stabile atau spidol. Hal ini
dilakukan karena peserta didik dengan gaya belajar visual cenderung menyukai
tulisan rapi dan menarik.
4.
Orang
tua dianjurkan untuk member hiasan-hiasan dinding yang berhubungan dengan
pelajaran dan menempelkannya di kamar peserta didik. Hal ini dapat membantu
peserta didik untuk menghafal.
5.
Di
sekolah, peserta didik dianjurkan untuk duduk di tempat yang dapat mengamati
semua kegiatan belajar mengajar. Karena peserta didik dengan gaya belajar
visual lebih mudah memahami bila ia melihat sendiri apa yang diterangkan atau
peragaan yang diperagakan oleh guru.
Pendekatan-pendekatan tersebut di atas kiranya sedikit banyak
membantu peserta didik dalam belajar. Untuk awal penerapan jam disiplin,
mungkin orang tua juga harus aktif mengingatkan, namun seiring berjalannya
waktu jam disiplin tersebut akan ditaati peserta didik. Semua berawal dari hal
yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan
membentuk disiplin seorang peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
1.
J.
Gerung, Nixon. Conceptual Learning and Learning Style. http://journal.uniera.ac.id/pdf_repository/juniera5-Zmiv7L6ep2ZJIvSZhtg1IT0GE.pdf
2.
Mujtahid.Mengenal
Cara Belajar Siswa.http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2701:jenis-dan-gaya-belajar&catid=35:artikel-dosen&Itemid=210
5.
Chasiyah,
dkk. Perkembangan Peserta Didik. Surakarta: Yuma Pustaka & Learing
Resources Center FKIP-UNS. 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar