“Seseorang yang beberapa bulan terakhir ini telah menemaniku,
setidaknya belajar menerima kekuranganku. Seseorang yang bahunya hanya untukku,
pelukannya hanya untukku. Seseorang yang sabar sekali mengajariku untuk menerima
perbedaan. Karena perbedaan itu fitrah sekali, katanya. Terima kasih banyak,
sayang.”
Paman Kaki Panjang...
Aku takut menemukan alasan, karena aku takut nantinya alasanku akan
menjauhkanku darimu. Biarlah semua tanpa alasan. Biarlah semua tanpa syarat. J
Terima kasih karena selalu memberiku dukungan ya meski dengan
bahasamu. Aku bukan orang yang bisa mengambil keputusan dengan cepat,
sepertimu. Tapi, terima kasih karena telah mengajariku untuk mengambil sikap.
Aku rumit. Serumit benang wol, mungkin. Aku tau, aku rumit. Dan tak
ada yang bisa ku lakukan dengan kerumitanku itu. Aku rumit, kamu simpel.
Bukankah kita cocok?