Seperti gelembung sabun. Apiku meletup lalu hilang. Entah hilang atau hanya meredup. Yang jelas, seperti gelembung sabun. Kamu tau gelembung sabun kan?
Bukan karena aku merasa bisa. Aku bahkan dibanding yang lain adalah yang paling bawah. Aku tak sehebat mereka. Tak seloyal mereka. Tak sepintar mereka. Tak sekritis mereka. Aku di sini hanya numpang tenar. Iya, numpang eksis. Numpang menunjukkan kalau aku sebenarnya ada. Dan yang jelas, aku tidak merasa aku lebih bisa dn lebih baik dari kamu-kamu wahai pendahuluku.
Apiku sedang meredup. Mungkin benar kalau ada yang bilang aku sedang merindukan sosok. Iya, sosok yang ketika ku keluhi tak pernah kembali mengeluh karena aku terlalu banyak mengeluh. Hhhh... Mungkin aku yang belum siap. Iya, aku yang belum siap dengan keadaanku yang seperti ini. Aku yang belum siap karena sepertinya aku terlalu dininabobokan. Emm... bukan itu masalahnya. Masalahnya, aku salah satu manusia yang kemapuan beradaptasiku dipertanyakan.
Seseorang bilang aku harus sabar. Aku nggak tau kalau ternyata aku seagresif itu. Aku nggak tau kalau ternyata aku seambisius itu mencari sosok yang dulu pada yang sekarang. Waktu berjalan, masa telah berubah. Suatu kesalahan ketika aku mencari sosok yang dulu, memaksakannya ada pada sosok yang sekarang. Aku tau sebenarnya aku terkungkung dengan pola pikirku yang mundur. Sampai kapanpun, aku tak akan pernah menemui sosok yang dulu pada yang sekarang. Karena waktu berjalan dan masa telah berubah.
Depresiku sia-sia. Aku membuang banyak waktu untuk marah, mengutuk keadaan. Sebenarnya sia-sia, karena aku memaksakan sebuah masa yang bukan masanya.
Bukan karena aku merasa bisa. Tapi, saat ini aku seperti gelembung sabun, yang menggembung besar ketika ditiup, kemudian terbang bebas, dan tiba-tiba pecah beberapa detik kemudian. Aku tak bisa terbang sendiri.
Bukan karena aku merasa bisa, tapi karena aku memaksakan masa yang bukan masanya maka aku seperti gelembung sabun. Apiku meredup. Mungkin segera hilang jika tak ada lagi yang menjaganya. Dan celakanya mungkin kini hanya aku yang dituntut untuk menjaga apiku. Sendirian.
Bukan karena aku merasa bisa. Tapi karena awalnya aku merasa terlalu yakin denganmu, Pim. Terlalu yakin, hingga suatu saat ketika aku buta karena aku terlalu yakin, aku menghilangkan segala kemungkinan bahwa mungkin saja aku akan dikecewakan. Hingga saat itu tiba... Iya. Hingga saat itu tiba. Aku bahkan tak tau nomorku masih tersimpan di buku teleponmu atau tidak. Kuakui, komunikasi kita kacau. Bukan, masing-masing dari kita yang memang kacau.
Apiku membara...
apiku meredup...
apiku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar