Pages

Kamis, 13 November 2014

Plengeh, Untuk Kesekian Kalinya...

 "Terang saja aku menantinya... 
Terang saja aku mendambanya... 
Terang saja aku menantinya... 
Karena dia begitu indah"

Hhhh... Semalam mataku benar-benar tak bisa diajak untuk menulis. Mungkin karena aku terlalu capek, aku ingin langsung tidur sepulang dari Plengeh. Tanpa mandi, padahal sudah kurencakan untuk mandi. Aku masih mengenakan pakaian kemarin, aku tak tau kalau aku secapek itu. Iya, mungkin aku terlalu capek dan parahnya aku nggak tau gimana caranya aku biar bisa istirahat. Gimana caranya aku biar bener-bener bisa memperoleh suasana baru yang membuatku fresh. Intinya aku butuh refreshing, mungkin aku perlu refreshing dengan mengganti nomor HP dan menyepi di tempat yang dingin bersama keluarga untuk beberapa saat. Aku benar-benar lelah di Solo. Aku benar-benar lelah dengannya.

Aku bukan bidadari berparas cantik
Aku bukan malaikat yang punya  sayap indah
Aku bukan malaikat yang tanpa cela.

Aku mungkin bukan yang baik untukmu
Tapi, aku suka kamu


Aku nggak tau, pagi ini aku jadi lelah karenanya. Aku nggak tau, pagi-pagi ini ketika aku bangun dan ketika aku teringat dia tiba-tiba hatiku jadi sakit sekali rasanya. Mungkin rasa sakit ini aku sendiri yang membuatnya, tapi pasti ada sebabnya kan. Aku tak menyangkal kalau aku adalah salah satu perempuan yang terlalu peka dan terlalu khawatir. Hatiku selalu di depan dan terkadang mengalahkan logika. Aku selalu dikuasai perasaan dan ketika itu rasionalku menjadi hilang. Aku adalah salah satu makhluk Tuhan yang pandai berimajinasi saat ini. Membayangkan hal yang sesuai dengan keinginanku. Membayangkan hal yang sesuai dengan kekhawatiranku.

Entah kenapa aku begitu khawatir kalau kau tidak menyayangiku
Entah kenapa aku begitu khawatir kalau kau meninggalkanku
Entah kenapa aku begitu khawatir kalau aku tak cukup baik untukmu
Kesalahan-kesalahanku, walaupun telah kau maafkan. Aku khawatir.

Mungkin aku perlu berdua dengan Tuhan agar khawatirku ini hilang semua.

Aku suka dia. Aku ingin menyukai seseorang selain dia, tapi aku suka dia. Haruskah hatiku ku paksa pergi? Aku tak mau. Pasti sakit sekali nanti rasanya. Terakhir kali aku memaksa hatiku pergi, aku pergi dengan luka. Rencanaku untuk memaksa hatiku pergi sudah kurencanakan sejak lama, dan selalu tak berhasil. Karena apa? Karena ketika aku memaksa hatiku pergi, aku semakin menyayanginya. Tuhan... Tolong aku.

Karena aku menyayanginya, aku tak perlu merubah dirinya menjadi seseorang yang sesuai denganku. Aku tak perlu sepayah itu melakukan hal yang sia-sia. Dia orang yang berpendirian kuat. Prinsipnya teguh dan tak kan berubah hanya demi orang yang dia sayangi. Aku tau. Aku tak perlu merubahnya untuk membuatku senang, aku menyayangi dia apa adanya. Makanya, aku tak perlu merubah dia menjadi sesuai dengan keinginanku. Aku tak perlu merubah dia menjadi seseorang yang tak ku kenal. Akulah yang seharusnya menyesuaikan dengan kebiasaannya. Prinsipnya teguh.

Mungkin kata-kataku ini terkesan omong kosong. Iya, terkesan omong kosong. Karena nyatanya aku masih membutuhkan penjelasan darinya. Percayaku tak sepercaya itu. Entah, mungkin aku gila. Mungkin aku tak waras.

Dia bukan orang yang suka berbasa-basi mengucapkan "met pagi..." atau "met bobo'..." atau "kamu udah makan?" atau "apa kabar?" atau "kamu lagi apa?". Bukan, dia bukan laki-laki se-basi itu. Ada yang penting bicarakan kalau tak ada ya sudah. Mungkin begitu. Hhhh... Terkadang aku merasa aku tak terlalu mengenalnya. Mungkin pengertianku kurang. Mungkin pemahamanku kurang. Atau mungkin aku tak sepercaya itu?

Entah, mungkin duniaku terlalu banyak basa-basi hingga mungkin hari-hariku membosankan, basi. Kali ini aku benar-benar mengutuk penemu ponsel. Tak tau, aku hanya ingin mengutukinya saja.

Aku tak sedewasa itu
Aku tak sedewasa kamu
Aku tak sedewasa dia yang dulu bersamamu :)
Dan mungkin aku tak mengerti semengerti dia ke kamu

Biarlah. Aku baik-baik saja. Biarlah dia tetap pada prinsipnya dan memang harusnya seperti itu. Biarlah dia tetap pada kebiasaannya dan memang harusnya seperti itu. Biarlah dia tetap dengan kesenangannya dan memang harusnya seperti itu. Biarlah dia tetap menjadi dirinya dan memang harusnya seperti itu. Akulah... Akulah yang harus menyesuaikan. Bukankah aku menerima dia apa adanya. Apa adanya berarti satu paket dia yang apa adanya, kan? :) Aku yang seharusnya memperbaiki diri. Aku yang seharusnya menghilangkan segala kekhawatiranku tentangnya. Ya ampun... Tuhan, aku benar-benar butuh pertolongan-Mu.

Kamu baik,
Maka tetaplah menjadi kamu yang baik :)
Aku sayang kamu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar