Hhhh...
Semalam mataku benar-benar tak bisa diajak untuk menulis. Mungkin karena aku
terlalu capek, aku ingin langsung tidur sepulang dari Plengeh. Tanpa mandi,
padahal sudah kurencakan untuk mandi. Aku masih mengenakan pakaian kemarin, aku
tak tau kalau aku secapek itu. Iya, mungkin aku terlalu capek dan parahnya aku
nggak tau gimana caranya aku biar bisa istirahat. Gimana caranya aku biar
bener-bener bisa memperoleh suasana baru yang membuatku fresh. Intinya
aku butuh refreshing, mungkin aku perlu refreshing dengan
mengganti nomor HP dan menyepi di tempat yang dingin bersama keluarga untuk
beberapa saat. Aku benar-benar lelah di Solo. Aku benar-benar lelah dengannya.
Aku bukan
bidadari berparas cantik
Aku bukan
malaikat yang punya sayap indah
Aku bukan
malaikat yang tanpa cela.
Aku mungkin
bukan yang baik untukmu
Tapi, aku
suka kamu
Aku nggak
tau, pagi ini aku jadi lelah karenanya. Aku nggak tau, pagi-pagi ini ketika aku
bangun dan ketika aku teringat dia tiba-tiba hatiku jadi sakit sekali rasanya.
Mungkin rasa sakit ini aku sendiri yang membuatnya, tapi pasti ada sebabnya
kan. Aku tak menyangkal kalau aku adalah salah satu perempuan yang terlalu peka
dan terlalu khawatir. Hatiku selalu di depan dan terkadang mengalahkan logika.
Aku selalu dikuasai perasaan dan ketika itu rasionalku menjadi hilang. Aku
adalah salah satu makhluk Tuhan yang pandai berimajinasi saat ini. Membayangkan
hal yang sesuai dengan keinginanku. Membayangkan hal yang sesuai dengan
kekhawatiranku.
Entah
kenapa aku begitu khawatir kalau kau tidak menyayangiku
Entah
kenapa aku begitu khawatir kalau kau meninggalkanku
Entah
kenapa aku begitu khawatir kalau aku tak cukup baik untukmu
Kesalahan-kesalahanku,
walaupun telah kau maafkan. Aku khawatir.
Mungkin aku
perlu berdua dengan Tuhan agar khawatirku ini hilang semua.
Aku suka
dia. Aku ingin menyukai seseorang selain dia, tapi aku suka dia. Haruskah
hatiku ku paksa pergi? Aku tak mau. Pasti sakit sekali nanti rasanya. Terakhir
kali aku memaksa hatiku pergi, aku pergi dengan luka. Rencanaku untuk memaksa
hatiku pergi sudah kurencanakan sejak lama, dan selalu tak berhasil. Karena
apa? Karena ketika aku memaksa hatiku pergi, aku semakin menyayanginya.
Tuhan... Tolong aku.
Karena aku
menyayanginya, aku tak perlu merubah dirinya menjadi seseorang yang sesuai
denganku. Aku tak perlu sepayah itu melakukan hal yang sia-sia. Dia orang yang
berpendirian kuat. Prinsipnya teguh dan tak kan berubah hanya demi orang yang
dia sayangi. Aku tau. Aku tak perlu merubahnya untuk membuatku senang, aku
menyayangi dia apa adanya. Makanya, aku tak perlu merubah dia menjadi sesuai
dengan keinginanku. Aku tak perlu merubah dia menjadi seseorang yang tak ku
kenal. Akulah yang seharusnya menyesuaikan dengan kebiasaannya. Prinsipnya
teguh.
Mungkin kata-kataku
ini terkesan omong kosong. Iya, terkesan omong kosong. Karena nyatanya aku
masih membutuhkan penjelasan darinya. Percayaku tak sepercaya itu. Entah,
mungkin aku gila. Mungkin aku tak waras.
Dia bukan
orang yang suka berbasa-basi mengucapkan "met pagi..." atau "met
bobo'..." atau "kamu udah makan?" atau "apa kabar?"
atau "kamu lagi apa?". Bukan, dia bukan laki-laki se-basi itu. Ada
yang penting bicarakan kalau tak ada ya sudah. Mungkin begitu. Hhhh...
Terkadang aku merasa aku tak terlalu mengenalnya. Mungkin pengertianku kurang.
Mungkin pemahamanku kurang. Atau mungkin aku tak sepercaya itu?
Entah,
mungkin duniaku terlalu banyak basa-basi hingga mungkin hari-hariku
membosankan, basi. Kali ini aku benar-benar mengutuk penemu ponsel. Tak tau,
aku hanya ingin mengutukinya saja.
Aku tak
sedewasa itu
Aku tak
sedewasa kamu
Aku tak
sedewasa dia yang dulu bersamamu :)
Dan mungkin
aku tak mengerti semengerti dia ke kamu
Biarlah.
Aku baik-baik saja. Biarlah dia tetap pada prinsipnya dan memang harusnya
seperti itu. Biarlah dia tetap pada kebiasaannya dan memang harusnya seperti
itu. Biarlah dia tetap dengan kesenangannya dan memang harusnya seperti itu. Biarlah
dia tetap menjadi dirinya dan memang harusnya seperti itu. Akulah...
Akulah yang harus menyesuaikan. Bukankah aku menerima dia apa adanya. Apa
adanya berarti satu paket dia yang apa adanya, kan? :) Aku yang seharusnya
memperbaiki diri. Aku yang seharusnya menghilangkan segala kekhawatiranku
tentangnya. Ya ampun... Tuhan, aku benar-benar butuh pertolongan-Mu.
Kamu baik,
Maka
tetaplah menjadi kamu yang baik :)
Aku sayang
kamu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar