Hujan
memiliki dua sisi yang berbeda, kesedihan dan kebahagiaan, sama halnya dengan
cinta… -sarang bi-
Apapun yang aku tau tentang cinta pada akhirnya aku tidak
mengetahui apapun tentangnya. Dan sejauh yang ku tau, cinta tak akan semudah
seperti yang terlihat di drama-drama itu.
Entah kenapa aku memikirkan tentang ini, mungkin ini
pengaruh dari drama yang sering ku lihat di TV, di mana sebuah cinta dengan
begitu mudahnya bisa diselesaikan. Aku tau ini bukan hal yang besar jika
dibandingkan apa yang akan kudapatkan setelah ini, tapi aku juga tidak bisa
menahan diriku untuk tidak menulis tentang hal yang kekanak-kanakan ini
sekarang. Dan inilah aku, menulis tanpa tau apa lagi yang harus ku tulis.
Sudah sejak lama setelah aku mengkhianati cintaku yang
sempat mengisi kenangan. Mengkhianati bukan berarti aku meninggalkan begitu
saja tanpa alasan, tapi aku mengkhianati diriku sendiri dengan membenci cintaku
yang pernah membentuk kenangan itu.
Aku tak tau apa yang kurasakan dulu itu cinta. Entah cinta
atau rasa kesepian yang kemudian terbayarkan dengan hadirnya seseorang di
sampingku. Dua hal ini memang begitu mirip jika kau tak mencermatinya dengan
seksama. Dan mungkin aku termasuk salah seorang yang tidak mencermatinya dengan
seksama.
Aku juga tak tau apakah yang seseorang rasakan dulu itu
cinta atau hanya rasa kasihan karena melihatku
yang begitu menyedihkan saat mengharap balasan darinya. Hanya dia yang tau, dan mungkin sekali dalam hidupnya dia pernah mencintaiku atau setidaknya merasa nyaman berada didekatku.
yang begitu menyedihkan saat mengharap balasan darinya. Hanya dia yang tau, dan mungkin sekali dalam hidupnya dia pernah mencintaiku atau setidaknya merasa nyaman berada didekatku.
Kami begitu berbeda, dari apa yang bisa ku tangkap. Kami
hanya memiliki beberapa hobi yang sama. Itu saja, tidak ada yang lebih dari
itu.
Aku, untuk sesaat, memilikinya. Tapi walaupun aku
menggenggam tangannya, aku merasa dia begitu jauh. Walaupun dia pernah
mendekapku, tapi aku hanya merasa ganjil. Ku pikir aku dulu mencintainya. Entah
itu cinta yang kurasakan atau sesuatu seperti obsesi untuk mendapatkannya.
Bahkan setelah dia menghilang,, aku merasa seperti hampir
gila sebelum aku sadar bahwa dia hanya sebagian kecil dari populasi adam di
dunia ini.
Bukankah kalau aku mencintainya, aku akan bahagia ketika
dia bahagia dengan orang lain? Tidak, aku bahkan sangat benci melihatnya. Aku
bahkan sangat benci ketika melihatnya bersama orang lain, aku membencinya
seperti aku tak pernah mencintainya. Aneh, ku pikir. Dan kemudian aku kembali
bertanya pada diriku sendiri, benarkah yang kurasakan dulu itu cinta? Atau
hanya obsesiku untuk membayar kesepianku? Atau seperti apa.
Entahlah, aku tidak tau.
Aku hanya membencinya karena dia adalah yang pertama dan
dia juga telah memecahkan hatiku menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku bisa
menyatukannya lagi jika itu pecahan-pecahan yang bisa aku susun kembali. Tapi
untuk ini aku tidak bisa menyusunnya kembali. Kau tau butiran kaca yang
tersebar setelah kau memecahkan gelas. Ah, yaa seperti itulah bentuk perasaanku
sekarang. Aku tidak bisa menyatukannya aku hanya bisa mengumpulkannya.
Bukan, aku bukan seorang wanita yang mau repot-repot
mengemis cinta pada seseorang yang bahkan tidak menoleh saat aku pergi dengan
linangan air mata. Aku tidak akan pernah melakukannya. Sedikitpun aku tak akan
pernah melakukannya.
Aku berubah, berubah dari orang yang dulu sangat
mencintainya menjadi seseorang yang bahkan melihat wajahnya pun aku tak ingin.
Aku tidak peduli bagaimana hubungannya dengan orang lain
itu, walaupun ada sedikit rasa yang meletup seperti kembang api ketika aku
dengar mereka dalam masalah.
Lagi-lagi aku bertanya, kenapa aku terdengar begitu jahat
pada pasanagn baru itu? Ah, mereka membuatku terdengar begitu jahat. Dan aku
juga tidak begitu peduli dengan semua omong kosong itu.
Setidaknya aku beruntung. Ya, aku beruntung karena
setidaknya aku tidak lama-lama terjebak dengan perasaan menyakitkan seperti
itu, dan perasaan menyakitkan itu yang kau sebut sebagai cinta. Benar-benar,
aku bisa mendengarnya berbohong hanya dari perubahan nada bicaranya. Kau pikir
kenapa aku repot-repot menurunkan harga diriku dengan bertanya “ Apa kau masih
mencintaiku?”. Hah, benar-benar sulit dipercaya karena aku pernah mencintai
seseorang seperti dirimu. Ya, setidaknya aku pernah mencintaimu, ku harap kau
pun senang karena aku pernah mencintaimu.
Hubungan kami dulu bukan seperti hubungan pasangan kekasih
yang lain, yang setiap detik member kabar, yang terkadang saling bertengkar dan
kembali tersenyum satu sama lain. Bukan, bukan seperti itu. Aku bahkan harus
menghibur diriku sendiri dengan berkata “Ah ya, dia pasti sibuk, jadi tidak
sempat memberiku kabar.”
Aku tidak pernah menangis di depannya, karena hati kecilku
tau aku tak perlu mengeluarkan air mataku untuk orang sepertinya, dan aku juga
tidak butuh orang sepertinya menghapus air mataku. Aku tidak memerlukannya. Aku
bisa menghapus air mataku sendiri. Aku bukan seseorang yang dengan mudah
menangis di depan pria. Bukan dengan mudah kecuali dia benar-benar
memperlakukanku sebagai seorang wanita yang ingin dilindungi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar