Pages

Sabtu, 22 Juni 2013

CINTA Untukku…

Hujan memiliki dua sisi yang berbeda, kesedihan dan kebahagiaan, sama halnya dengan cinta… -sarang bi-

Apapun yang aku tau tentang cinta pada akhirnya aku tidak mengetahui apapun tentangnya. Dan sejauh yang ku tau, cinta tak akan semudah seperti yang terlihat di drama-drama itu.
Entah kenapa aku memikirkan tentang ini, mungkin ini pengaruh dari drama yang sering ku lihat di TV, di mana sebuah cinta dengan begitu mudahnya bisa diselesaikan. Aku tau ini bukan hal yang besar jika dibandingkan apa yang akan kudapatkan setelah ini, tapi aku juga tidak bisa menahan diriku untuk tidak menulis tentang hal yang kekanak-kanakan ini sekarang. Dan inilah aku, menulis tanpa tau apa lagi yang harus ku tulis.

Sudah sejak lama setelah aku mengkhianati cintaku yang sempat mengisi kenangan. Mengkhianati bukan berarti aku meninggalkan begitu saja tanpa alasan, tapi aku mengkhianati diriku sendiri dengan membenci cintaku yang pernah membentuk kenangan itu.

Aku tak tau apa yang kurasakan dulu itu cinta. Entah cinta atau rasa kesepian yang kemudian terbayarkan dengan hadirnya seseorang di sampingku. Dua hal ini memang begitu mirip jika kau tak mencermatinya dengan seksama. Dan mungkin aku termasuk salah seorang yang tidak mencermatinya dengan seksama.

Aku juga tak tau apakah yang seseorang rasakan dulu itu cinta atau hanya rasa kasihan karena melihatku
yang begitu menyedihkan saat mengharap balasan darinya. Hanya dia yang tau, dan mungkin sekali dalam hidupnya dia pernah mencintaiku atau setidaknya merasa nyaman berada didekatku.

Kami begitu berbeda, dari apa yang bisa ku tangkap. Kami hanya memiliki beberapa hobi yang sama. Itu saja, tidak ada yang lebih dari itu.

Aku, untuk sesaat, memilikinya. Tapi walaupun aku menggenggam tangannya, aku merasa dia begitu jauh. Walaupun dia pernah mendekapku, tapi aku hanya merasa ganjil. Ku pikir aku dulu mencintainya. Entah itu cinta yang kurasakan atau sesuatu seperti obsesi untuk mendapatkannya.
Bahkan setelah dia menghilang,, aku merasa seperti hampir gila sebelum aku sadar bahwa dia hanya sebagian kecil dari populasi adam di dunia ini.

Bukankah kalau aku mencintainya, aku akan bahagia ketika dia bahagia dengan orang lain? Tidak, aku bahkan sangat benci melihatnya. Aku bahkan sangat benci ketika melihatnya bersama orang lain, aku membencinya seperti aku tak pernah mencintainya. Aneh, ku pikir. Dan kemudian aku kembali bertanya pada diriku sendiri, benarkah yang kurasakan dulu itu cinta? Atau hanya obsesiku untuk membayar kesepianku? Atau seperti apa.

Entahlah, aku tidak tau.

Aku hanya membencinya karena dia adalah yang pertama dan dia juga telah memecahkan hatiku menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku bisa menyatukannya lagi jika itu pecahan-pecahan yang bisa aku susun kembali. Tapi untuk ini aku tidak bisa menyusunnya kembali. Kau tau butiran kaca yang tersebar setelah kau memecahkan gelas. Ah, yaa seperti itulah bentuk perasaanku sekarang. Aku tidak bisa menyatukannya aku hanya bisa mengumpulkannya.

Bukan, aku bukan seorang wanita yang mau repot-repot mengemis cinta pada seseorang yang bahkan tidak menoleh saat aku pergi dengan linangan air mata. Aku tidak akan pernah melakukannya. Sedikitpun aku tak akan pernah melakukannya.

Aku berubah, berubah dari orang yang dulu sangat mencintainya menjadi seseorang yang bahkan melihat wajahnya pun aku tak ingin.

Aku tidak peduli bagaimana hubungannya dengan orang lain itu, walaupun ada sedikit rasa yang meletup seperti kembang api ketika aku dengar mereka dalam masalah.

Lagi-lagi aku bertanya, kenapa aku terdengar begitu jahat pada pasanagn baru itu? Ah, mereka membuatku terdengar begitu jahat. Dan aku juga tidak begitu peduli dengan semua omong kosong itu.

Setidaknya aku beruntung. Ya, aku beruntung karena setidaknya aku tidak lama-lama terjebak dengan perasaan menyakitkan seperti itu, dan perasaan menyakitkan itu yang kau sebut sebagai cinta. Benar-benar, aku bisa mendengarnya berbohong hanya dari perubahan nada bicaranya. Kau pikir kenapa aku repot-repot menurunkan harga diriku dengan bertanya “ Apa kau masih mencintaiku?”. Hah, benar-benar sulit dipercaya karena aku pernah mencintai seseorang seperti dirimu. Ya, setidaknya aku pernah mencintaimu, ku harap kau pun senang karena aku pernah mencintaimu.

Hubungan kami dulu bukan seperti hubungan pasangan kekasih yang lain, yang setiap detik member kabar, yang terkadang saling bertengkar dan kembali tersenyum satu sama lain. Bukan, bukan seperti itu. Aku bahkan harus menghibur diriku sendiri dengan berkata “Ah ya, dia pasti sibuk, jadi tidak sempat memberiku kabar.”

Aku tidak pernah menangis di depannya, karena hati kecilku tau aku tak perlu mengeluarkan air mataku untuk orang sepertinya, dan aku juga tidak butuh orang sepertinya menghapus air mataku. Aku tidak memerlukannya. Aku bisa menghapus air mataku sendiri. Aku bukan seseorang yang dengan mudah menangis di depan pria. Bukan dengan mudah kecuali dia benar-benar memperlakukanku sebagai seorang wanita yang ingin dilindungi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar