Hari yang indah, untuk seseorang yang indah. Awan-awan beriringan, angin semilir berhembus. Pelan. Menyisir anak rambut yang nakal tak rapi-rapi pula walau disisir berkali-kali. Hhhhhh... mengingat semua kenangan ternyatamemang tak sesulit yang aku bayangkan. Kadang tertawa sendiri, senyum-senyum sendiri, malu, bahkan menangis. Ya Tuhan... semua itu terasa menyenangkan. Tapi semua tlah berakhir. Ya ! Berakhir.
Berakhir?
Tidak semua belum berakhir. Hanya kelihatannya saja berakhir. Semu. Tapi semua
berjalan dalam ketidakpastian. Aku benci ketidakpastian. Tapi ya... semua itu
yang menerpaku sekarang.
Terlalu
banyak rahasia 20 bulan itu. Ya... terlalu banyak. Bahkan tawamu menyimpan
rahasia. Senyummu juga menyimpan rahasia. Semua... semuanya menyimpan rahasia.
Rahasia yang jarang kau bagi. Aku hanya tau serpihan demi serpihan. Sepotong
demi sepotong. Tanpa tau apa utuhnya.
Ya
Tuhan... Kenangan inilah yang aku tak suka. Bukan, bukan kenangan. Tapi masih
berjalan... sampai sekarang. Sampai aku menuliskan note ini. Semua masih
berjalan. Berjalan pelan... Merambat... Seperti siput. Lamban. Menyisakan
banyak mutiara bening di permadani.
Aku...
aku seperti orang bodoh. Tak tau apa yang sedang terjadi. Hanya menatap bingung
ke arahmu yang... yang... entahlah. Kau tersenyum. Aku tau senyuman itu.
Seolah kau berkata 'aku baik-baik saja, Honey'. Aku bukan anak kecil yang
dengan mudah kau bohongi. Ya Tuhan... Itukah dirimu? Misterius. Penuh rahasia.
Tidak.
Aku tidak memikirkan lagi seperti apa dirimu. Tapi tidak bisakah kau
berbagi? Setidaknya kau memberiku garis besar. Tidak. Aku tidak meminta kau
selalu membaginya denganku. Aku tidak memintanya. Garis besar, tuan.
Garis besar.
Aku
bahkan ada di sini. Kapan pun kau datang. Kapan pun... I wait. I am still waiting.
Aku
hanya tau sebagian kecil serpihan itu. Aku tak mungkin menanyakannya. Aku hanya
menunggu kau mau membaginya. Kau tau? Aku hanya ingin melihatmu tertawa lepas.
Tersenyum tanpa beban. Ringan melambai tangan dan melangkahkan kaki. Hanya
itu... Tidak lebih... 'Just it, ayah...'
Ya...
serpihan. Serpihan yang tetap menjadi serpihan. Biarlah. Biarlah jika
memang itu hanya serpihan.
Hhhh...
mengingat memang tak sesulit yang aku pikirkan. Aku memang payah. Ya,
sepertinya aku memang payah.
Dan
sekarang, biarlah semua kenangan itu tertutup dengan sendirinya. Aku tidak
memaksa untuk menutup.
I'm
trying to be the leave. That never hate the wind.
Jadi
ini repost note gue yang ada di fb... Gue baru inget kalo catetan ini
ternyata gue buat pas tanggal 14 Mei 2011. Yaaa, hampir dua tahun yang lalu.
Waktu gue masih alay-alaynya ditinggal pacar. Hahahaha... But when I read this
again tonight, I feel the sincerity that i gave to him... :) Hope he will be
okay everywhere he is...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar